My Second Father was Died
Hari ini,
tanggal 4 September 2013 beliau masuk rumah sakit. Awalnya aku merasa biasa
saja, karena menurut sumber beliau hanya sesak napas. Walaupun begitu, aku
memiliki keinginan tinggi untuk membesuknya, hanya sekerdar memastikan
keadaanya.
4 September
2013, pukul 17.00 WIB
Sebuah kabar buruk sukses meremukan hatiku. saat itu aku mendengar beliau
masuk ICU. Air mata menetes tiada henti. Menunggu kabar baik datang. Akhirnya,
pada pukul 18.00 WIB bapak pulang. Sempat kutanyakan bagaimana keadaan beliau.
Bapak menjawab, bahwa beliau mulai stabil dan membaik. Remukan- remukan hatiku
mulai tersusun sempurna mendengar kabar yang membuatku ringan dan hampir
melayang.
Pada
pukul 20.00 WIB, anak bungsu beliau menghubungi HP ibuku yang waktu itu
tertinggal dirumah. Karena HP itu berada disampingku aku mencoba menghubungi
bapak untuk menanyakan keadaan beliau, yang akan aku salurkan lagi ke anank
bungsu beliau. Ternyata, kondisi beliau bertambah buruk. Harap- harap cemas
perasaanku sekarang. Aku berdiri dari kursi dan berpindah tempat. Kini, aku
berada di teras rumah, menatap ke jalan membuatku mengingat beliau. Bayangan
beliau terlihat jelas didepanku, tersenyum kepadaku sembari melanjutkan
perjalannya. Lagi lagi air mata ini menetes tanpa aba- aba.
Pukul 22.00 WIB
Aku tidak bisa tidur, menunggu kabar dari RS. Dan yang ku tunggu- tunggu
akhirnya datang. Telpon berdering. Kuangkat, terdengar suara sedih bapak.
Feelingku tidak enak. Kutanyakan apa yang terjadi. Bapak berkata, bahwa beliau
kini menggunakan alat bantu pernapasan. Telpon yang kugenggam ini hampir saja
terjatuh. Bapak berpesan untuk langsung memberi tahukan anak bungsunya. Aku
langsung melakukan amanah dari bapak. Kuhubungi anak bungsunya dan meminta doa
untuk kesembuhan beliau. Tidak lupa pula kuhubungi kakakku untuk meminta doanya
pula. Disini puncak dari kecemasanku. Lantunan istigfar tidak terputus dari
mulutku. 1 jam... 2 jam...3jam...4 jam...5 jam....Aku pun terlelap.
5 September
2013 pukul 05.30 WIB
Bapak membangunkanku, mengajakku ke RS. Itu yang kuinginkan, yang kutunggu dari
kemarin. Aku langsung beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka lalu mengambil
asal kerudung dan menyatukannya dengan celana bahan hitam dan jaket biru
donker. Kupanaskan motor mengambil helm dan siap berangkat. Oh, HP ibu
berdering lagi, akan ada kabar apa lagi ini???Aku memutar otak menduga- duga
apa yang akan terjadi. Ternyata kritis. Beliau sekarang kritis. Dengan perasaan
hancur aku mengendarai motor menuju RS. Dengan membaca doa memohon keselamatan
beliau. Sekarang aku telah berada di lantai 1 RS.
Pukul
06.00 WIB
Suara tangis ini sudah tidak asing lagi bagiku. Perasaanku tambah was-
was. Sesampainya didekat ruang ICU, Ibu menghampiri aku dan bapak. Sepertinya
kabar buruk akan terdengar lagi. Ingin rasanya kututup kedua telinga ini agar
tak dapat mendengar setiap kabar buruk tentang beliau, tapi bisa. Aku harus
tetap mendengarkan ibu dengan seksama. Ibu berkata bahwa beliau telah tiada.
Satu detik... dua detik... tiga detik... empat detik... lima detik.... Air mata
menetes lagi. Aku tak percaya secepat itu beliau mendapatkan undangan untuk
menghadap-Mu. Ibu menyuruhku pulang memberi tahu sepupuku untuk menjemput istri
beliau yang sangat tak berdaya saat ini. Karena keadaanku yang masih shock
tidak memungkinkan, aku memutuskan untuk membonceng bapak. Sesampai dirumah aku
hanya duduk diteras, tanpa melakukan aktivitas apapun. Setelah aku merasa agak
tenang, aku langsung berjalan menuju rumah beliau. Membantu semua hal yang bisa
aku bantu.
Pukul
09.25 WIB
Putri-putri, menantu- menantu, serta
cucu beliau sudah tiba dari Jakarta. Saat itu aku berada didapur, menenangkan
diriku yang masih tidak percaya. Saat aku berjalan melewati penduduk sekitar
yang datang untuk menyampaikan bela sungkawanya. Tempat tujuanku sudah didepan
mata, kamar beliau. Sejenak aku terdiam didepan pintu kamar beliau. Melihat
betapa penuhnya kamar beliau. Wajah- wajah orang- orang yang berada didalam
kamar itu sudah tak asing lagi untukku. Ya, mereka keluarga beliau. Cucu
perempuan pertama beliau melihat kedatanganku, dengan singkat dia memelukku
dengan erat. Seakan ingin membagi rasa sedihnya. Pertahananku runtuh. Aku sudah
tidak dapat menahan air mataku. Kutepuk punggungnya, agar dapat membuatnya
sedikit tenang. Tiba- tiba seseorang menarik tangannya, menyuruhnya untuk
mengambil air wudhu lalu membacakan Yassin untuk beliau. Sayang sekali, aku
tidak dapat ikut membacakan beliau Yassin.
Pukul 12.05 WIB
Kami mempersiapkan diri untuk
mengantar beliau ke tempat peristirahatan terakhir beliau. Sebelumnya, keluarga
dipersilahkan untuk melaksanakan prosesi adat terlebih dulu. Adat itu bertujuan
untuk menghilangkan rasa ingat keluarga atas beliau agar mereka tidak berlarut-
larut dalam kesedihan, dengan cara berputar dibawah keranda beliau sebanyak
tiga kali. Aku tahu, aku memang bukan anak
atau cucu beliau, tapi entah kenapa aku didorong beberapa warga sekitar.
Setelah pelaksanaan adat, kami pun berjalan menuju tempat pemakaman umum.
Setiap langkahku kupersembahkan untuk beliau. Sepanjang perjalanan, air mataku
terjun bebas, mengenai pipiku lalu turun hingga tanah. Mengingat setiap
kenangan bersama beliau. Mengingat betapa berharganya beliau untuk keluarga
kami. Betapa gigihnya perjuangan beliau untuk membantu bapak pindah dari
Wamena, Papua. Sesampainya didepan liang lahat, jenazah beliau dimasukkan
kedalam lubangan tersebut, lalu diadzani. Pada saat diadzani, aku teringat oleh
beliau lagi, sehingga air mataku mengalir lagi. Setelah diadzani, lubangan itu
ditutupi oleh tanah, saat itu tangisku semakin menjadi- jadi memikirkan beliau
yang akan sendirian dibawah sana. Kulihat sekitar pemakaman beliau, terlihat
banyak orang yang menangisi beliau, hal tersebut membuktikan semasa hidup
beliau, beliau disayang, dihormati, disegani oleh banyak orang.
Pukul 19.00 WIB
Hari ini adalah hari pertama tahlilan
kepergian beliau, masih terasa hangat tawa beliau dirumah ini. Saat bacaan
Yassin dengan indah dialunkan, tangisku pecah. Aku memutuskan untuk dibelakang.
13 Oktober 2013
Hari ini adalah 40 hari kepergian
beliau. Kusempatkan sedikit waktuku untuk menjenguk beliau di tempat tidurnya.
Sebelum membacakan Yassin, kuberikan waktu kepada otakku untuk memutar lagi
kenanganku bersama beliau.
Hari itu, hari terakhir kakak di Semarang.
Pada awalnya, ibu mau menjemput kakak naik bus. Berita itu terdengar hingga
telinga beliau. Beliau langsung menawarkan untuk menjemput kakak. Saat itu,kami
diajak makan bersama disebuah rumah makan.
Suatu hari pula, beliau mengajak aku,
adikku untuk berlibur ke waterboom. Dengan bermodal pakaian ganti, beliau
mengajak kami pergi. Membelikan kami makan pagi dan makan siang.
Lalu, waktu itu bapak bekerja di
Papua. Keinginan bapak untuk pindah ke Pati lagi- lagi terdengar oleh beliau. Lalu
dengan susah payah beliau mendaftarkan bapak ditempatnya bekerja. Mustahil
bagiku, seorang supir dinas dapat memasukkan adiknya di kantornya.
Kenangan lama bersama beliau kembali
terputar. Membuatku tersenyum lalu meneteskan air mata mengenang kepergian
beliau.